Tugas : NIKEL LATERIT
FAKTOR –
FAKTOR PEMBENTUKAN NIKEL LATERIT
OLEH
KADIR GUNAWAWAN
093 2011 0083
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
KULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKSSAR
2014
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Nikel
merupakan salah satu barang tambang yang penting, manfaatnya begitu besar bagi
kehidupan sehari – hari, seperti pembuatan logam anti karat, campuran pada
pembuatan stainless steel, baterai nickel – metal hybride, dan berbagai
jenis barang lainnya. Keserbagunaan ini pula yang menjadikan nikel sangat
berharga dan memiliki nilai jual tinggi di pasaran dunia. Setidaknya sejak 1950
permintaan akan nikel rata – rata mengalami kenaikan 4% tiap tahun, dan
deperkirakan sepuluh tahun mendatang terus mengalami peningkatan.
Bijih
nikel diperoleh dari endapan nikel laterit yang terbentuk akibat pelapukan
batuan ultramafik yang mengandung nikel 0,2 – 0,4 % (Golightly, 1981). Jenis –
jenis batuan tersebut antara lain batuan yang banyak mengandung mineral olivin,
piroksen, dan amphibole (Rajesh, 2004). Nikel laterit umumnya ditemukan pada
daerah tropis, dikarenakan iklim yang mendukung terjadinya pelapukan, selain
topografi, drainase, tenaga tektonik, batuan induk, dan struktur geologi
(Elias, 2001).
Endapan
nikel terbentuk melalui suatu proses yang panjang dan memakan waktu lama.
Proses pembentukan endapan laterit nikel dimulai ketika batuan mengalami
pengangkatan sehingga tersingkap di permukaan bumi, batuan tersebut akan
terurai. Adanya pelapukan kimiawi dan fisika menghancurkan batuan tersebut
hingga menjadi tanah (soil). Apabila batuan tersebut mengandung nikel maka
pelapukan akan menyebabkan kandungan nikel semakin tinggi. Proses pembentukan
bijih laterit nikel dimulai dari proses pelapukan batuan ultrabasa (Dunit atau
Peridotit).Batuan ultrabasa tersusun atas atas mineral olivine, piroksen,
amfibol, dan mika. Olivin pada batuan ini mempunyai kandungan nikel sekitar 0,3
%. Batuan ultrabasa yang mengandung nikel ini mengalami proses serpentinisasi,
yaitu proses terisinya retakan atau kekar oleh mineral serpentin yang kemudian
mengalami proses kimiawi yang disebabkan karena adanya pengaruh dari tanah.
Selanjutnya oleh pengaruh iklim setempat batuan induk mengalami pelapukan
fisika dan kimiawi. Proses tersebut mengakibatkan terbentuknya endapan laterit
nikel (Prasetiawati, 2004). Oleh karena itu, karena prosesnya yang panjang dan
memakan waktu yang tidak sebentar serta proses pembentukannya, hal inilah yang
menjadi dasar faktor apa saja yang mempengaruhi proses pembentukan endapan
nikel laterit tersebut.
I.2 Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah yang dapat disajikan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah
yang dimaksud dengan endapan nikel laterit ?
2. Bagaimanakah
proses pembentukan endapan nikel laterit ?
3. Faktor
apa saja kah yang mempengaruhi proses pembentukan endapan nikel laterit ?
4. Bagaimanakah
profil nikel laterit ?
I.3 Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Menyediakan
informasi tentang faktor yang mengontrol proses pembentukan endapan nikel
laterit.
2. Memahami
proses pembentukan endapan nikel laterit.
3. Mengetahui
tentang nikel maupun endapan nikel laterit.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Endapan Nikel Laterit
Endapan nikel laterit merupakan
bijih yang dihasilkan dari proses pelapukan batuan ultrabasa yang ada di atas
permukaan bumi. Istilah Laterit sendiri diambil dari bahasa Latin “later”
yang berarti batubata merah, yang dikemukakan oleh M. F. Buchanan (1807), yang
digunakan sebagai bahan bangunan di Mysore, Canara dan Malabr
yang merupakan wilayah India bagian selatan. Material tersebut sangat rapuh dan
mudah dipotong, tetapi apabila terlalu lama terekspos, maka akan cepat sekali
mengeras dan sangat kuat.
Smith (1992) mengemukakan bahwa
laterit merupakan regolith atau tubuh batuan yang mempunyai kandungan Fe
yang tinggi dan telah mengalami pelapukan, termasuk di dalamnya profil endapan
material hasil transportasi yang masih tampak batuan asalnya.
Sebagian besar endapan laterit
mempunyai kandungan logam yang tinggi dan dapat bernilai ekonomis tinggi,
sebagai contoh endapan besi, nikel, mangan dan bauksit.
Dari beberapa pengertian bahwa
laterit dapat disimpulkan merupakan suatu material dengan kandungan besi dan
aluminium sekunder sebagai hasil proses pelapukan yang terjadi pada iklim
tropis dengan intensitas pelapukan tinggi. Di dalam industri pertambangan nikel
laterit atau proses yang diakibatkan oleh adanya proses lateritisasi sering
disebut sebagai nikel sekunder.
II.2 Proses Pembentukan Endapan Nikel Laterit
Pembentukan nikel laterit secara
kimia terkait dengan proses serpentinisasi yang terjadi pada batuan peridotite
akibat pengaruh larutan hidrotermal yang akan merubah batuan peridotite menjadi
batuan serpentinite atau batuan serpentinite peridotite. Sedangkan proses kimia
dan fisika dari udara, air, serta pergantian panas dingin yang bekerja kontinu
(berkelanjutan), menyebabkan disintegrasi dan dekomposisi pada batuan induk.
Pada pelapukan kimia khususnya, air
tanah kaya akan CO2 yang berasal dari udara dan pembusukan tumbuh – tumbuhan
akan menguraikan mineral – mineral yang tidak stabil (olivin dan piroksen) pada
batuan ultrabasa, kemudian menghasilkan Mg, Fe, Ni yang larut dalam Si yang
cenderung membentuk koloid dari partikel – partikel silika sangat halus. Di
dalam larutan, Fe teroksidasi dan mengendap sebagai ferri – hidroksida ,
akhirnya membentuk mineral – mineral seperti goethite, limonite, dan hematite
dekat permukaan. Bersama mineral – mineral ini selalu ikut serta unsur cobalt
dalam jumlah kecil.
Larutan yang mengandung Mg, Ni, dan
Si terus menerus mengalir kebawah tanah selama larutannya bersifat asam, hingga
pada suatu kondisi dimana suasana cukup netral akibat adanya kontak dengan
tanah dan batuan, maka ada kecenderungan untuk membentuk endapan hidrosilikat.
Nikel yang terkandung dalam rantai silikat atau hidrosilikat dengan komposisi bervariasi tersebut akan
mengendap pada celah – celah atau rekahan – rekahan yang dikenal dengan urat –
urat garnierite dan krisopras. Sedangkan larutan residunya akan membentuk suatu
senyawa yang disebut saprolite yang berwarna coklat kuning kemerahan. Unsur –
unsur lainnya seperti Ca dan Mg yang terlarut sebagai bikarbonat akan terbawa
kebawah sampai batas pelapukan dan akan diendapkan sebagai dolomite, magnesite,
yang biasa mengisi celah – celah atau rekahan – rekahan pada batuan induk.
Dilapangan urat – urat ini dikenal sebagai batas penunjuk antara zona pelapukan
dengan zona batuan segar yang disebut dengan akar pelapukan (root of
weathering).
Proses pembentukan nikel laterit
diawali dari proses pelapukan batuan ultrabasa, dalam hal ini adalah batuan harzburgit.
Batuan ini banyak mengandung olivin, piroksen, magnesium
silikat dan besi, mineral-mineral tersebut tidak stabil dan mudah mengalami
proses pelapukan.
Faktor kedua sebagai media
transportasi Ni yang terpenting adalah air. Air tanah yang kaya akan CO2,
unsur ini berasal dari udara luar dan tumbuhan, akan mengurai mineral-mineral
yang terkandung dalam batuan harzburgit tersebut. Kandungan olivin,
piroksen, magnesium silikat, besi, nikel dan silika akan
terurai dan membentuk suatu larutan, di dalam larutan yang telah terbentuk
tersebut, besi akan bersenyawa dengan oksida dan mengendap sebagai ferri
hidroksida.
Endapan ferri hidroksida ini
akan menjadi reaktif terhadap air, sehingga kandungan air pada endapan tersebut
akan mengubah ferri hidroksida menjadi mineral-mineral seperti goethite
(FeO(OH)), hematit (Fe2O3) dan cobalt.
Mineral-mineral tersebut sering dikenal sebagai “besi karat”.
Endapan ini akan terakumulasi dekat
dengan permukaan tanah, sedangkan magnesium, nikel dan silika
akan tetap tertinggal di dalam larutan dan bergerak turun selama suplai air
yang masuk ke dalam tanah terus berlangsung. Rangkaian proses ini merupakan
proses pelapukan dan leaching. Unsur Ni sendiri merupakan unsur tambahan
di dalam batuan ultrabasa. Sebelum proses pelindihan berlangsung, unsur Ni
berada dalam ikatan serpentine group. Rumus kimia dari kelompok
serpentin adalah X2-3 SiO2O5(OH)4,
dengan X tersebut tergantikan unsur-unsur seperti Cr, Mg, Fe, Ni, Al, Zn
atau Mn atau dapat juga merupakan kombinasinya.
Adanya suplai air dan saluran untuk
turunnya air, dalam hal berupa kekar, maka Ni yang terbawa oleh air turun ke
bawah, lambat laun akan terkumpul di zona air sudah tidak dapat turun lagi dan
tidak dapat menembus bedrock (Harzburgit). Ikatan dari Ni yang berasosiasi
dengan Mg, SiO dan H akan membentuk mineral garnierit dengan rumus kimia
(Ni,Mg)Si4O5(OH)4. Apabila proses ini
berlangsung terus menerus, maka yang akan terjadi adalah proses pengkayaan
supergen (supergen enrichment). Zona pengkayaan supergen ini terbentuk
di zona saprolit. Dalam satu penampang vertikal profil laterit dapat juga
terbentuk zona pengkayaan yang lebih dari satu, hal tersebut dapat terjadi
karena muka air tanah yang selalu berubah-ubah, terutama dari perubahan musim.
Dibawah zona pengkayaan supergen
terdapat zona mineralisasi primer yang tidak terpengaruh oleh proses oksidasi
maupun pelindihan, yang sering disebut sebagai zona Hipogen, terdapat
sebagai batuan induk yaitu batuan Harzburgit.
II.3 Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Endapan
Nikel Laterit
|
Faktor
Biologi
§
Tipe Vegetasi
§
Pembusukan Vegetasi
§
Aktivitas Mikroba
§
Aktivitas Manusia
|
|
Faktor
Iklim
§
Temperatur
§
Curah Hujan
§
pH Hujan
§
Musim
|
|
Faktor
Litologi
§
Geomorfologi
§
Komposisi batuan
induk
§
Ukuran butir
mineral
§
Kestabilan mineral
§
Fracture dan joint
|
|
Kombinasi
Keseluruhan Faktor
§ Tingkat
keasaman (pH)
§ Potensial
redoks
§ Kecepatan
pelarutan dari material
|
|
Faktor
Hidrologi
§
Ketersediaan air
§
Absorpsi air
§
Pergerakan vertikal air
§
Porositas dan drainase
§
Posisi water table
|
|
Sistem
Pelapukan
|
Gambar
II.1 Skema faktor – faktor yang mempengaruhi sistem pelapukan (ahmad, 2006)
Faktor-faktor
yang mempengaruhi pembentukan bijih nikel laterit ini adalah:
1.
Batuan
Asal
Adanya
batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan nikel laterit,
macam batuan asalnya adalah batuan ultra basa. Dalam hal ini pada batuan ultra
basa tersebut: - terdapat elemen Ni yang paling banyak diantara batuan lainnya
- mempunyai mineral-mineral yang paling mudah lapuk atau tidak stabil, seperti
olivin dan piroksin - mempunyai komponen-komponen yang mudah larut dan
memberikan lingkungan pengendapan yang baik untuk nikel.
2.
Iklim
Adanya
pergantian musim kemarau dan musim penghujan dimana terjadi kenaikan dan
penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan terjadinya proses
pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Perbedaan temperatur yang cukup besar akan
membantu terjadinya pelapukan mekanis, dimana akan terjadi rekahan-rekahan
dalam batuan yang akan mempermudah proses atau reaksi kimia pada batuan.
Iklim yang
sesuai untuk pembentukan endapan laterit adalah iklim tropis dan sub tropis, di
mana curah hujan dan sinar matahari memegang peranan penting dalam proses
pelapukan dan pelarutan unsur-unsur yang terdapat pada batuan asal. Sinar
matahari yang intensif dan curah hujan yang tinggi menimbulkan perubahan besar
yang menyebabkan batuan akan terpecah-pecah, disebut pelapukan mekanis,
terutama dialami oleh batuan yang dekat permukaan bumi.
Secara
spesifik, curah hujan akan mempengaruhi jumlah air yang melewati tanah, yang
mempengaruhi intensitas pelarutan dan perpindahan komponen yang dapat
dilarutkan. Sebagai tambahan, keefektifan curah hujan juga penting. Suhu tanah
(suhu permukaan udara) yang lebih tinggi menambah energi kinetik proses
pelapukan.
3.
Reagen-Reagen
Kimia Dan Vegetasi
Yang
dimaksud dengan reagen-reagen kimia adalah unsur-unsur dan senyawa-senyawa yang
membantu mempercepat proses pelapukan. Air tanah yang mengandung CO2 memegang
peranan penting didalam proses pelapukan kimia. Asam-asam humus menyebabkan
dekomposisi batuan dan dapat merubah pH larutan. Asam-asam humus ini erat
kaitannya dengan vegetasi daerah. Dalam hal ini, vegetasi akan mengakibatkan: •
penetrasi air dapat lebih dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur akar
pohon-pohonan • akumulasi air hujan akan lebih banyak • humus akan lebih tebal
Keadaan ini merupakan suatu petunjuk, dimana hutannya lebat pada lingkungan
yang baik akan terdapat endapan nikel yang lebih tebal dengan kadar yang lebih
tinggi. Selain itu, vegetasi dapat berfungsi untuk menjaga hasil pelapukan
terhadap erosi mekanis.
4.
Struktur
Struktur
geologi yang penting dalam pembentukan endapan laterit adalah rekahan (joint)
dan patahan (fault). Adanya rekahan dan patahan ini akan mempermudah
rembesan air ke dalam tanah dan mempercepat proses pelapukan terhadap batuan
induk. Selain itu rekahan dan patahan akan dapat pula berfungsi sebagai tempat
pengendapan larutan-larutan yang mengandung Ni sebagai vein-vein. Seperti
diketahui bahwa jenis batuan beku mempunyai porositas dan permeabilitas yang
kecil sekali sehingga penetrasi air sangat sulit, maka dengan adanya
rekahan-rekahan tersebut lebih memudahkan masuknya air dan proses pelapukan
yang terjadi akan lebih intensif.
5.
Topografi
Keadaan
topografi setempat akan sangat mempengaruhi sirkulasi air beserta reagen-reagen
lain. Untuk daerah yang landai, maka air akan bergerak perlahan-lahan sehingga
akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui
rekahan-rekahan atau pori-pori batuan. Akumulasi andapan umumnya terdapat pada
daerah-daerah yang landai sampai kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa
ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi. Pada daerah yang curam, secara
teoritis, jumlah air yang meluncur (run off) lebih banyak daripada air yang
meresap ini dapat menyebabkan pelapukan kurang intensif.
Geometri relief dan lereng akan mempengaruhi proses pengaliran dan sirkulasi air serta reagen-reagen lain. Secara teoritis, relief yang baik untuk pengendapan bijih nikel adalah punggung-punggung bukit yang landai dengan kemiringan antara 10 – 30°. Pada daerah yang curam, air hujan yang jatuh ke permukaan lebih banyak yang mengalir (run-off) dari pada yang meresap kedalam tanah, sehingga yang terjadi adalah pelapukan yang kurang intensif. Pada daerah ini sedikit terjadi pelapukan kimia sehingga menghasilkan endapan nikel yang tipis. Sedangkan pada daerah yang landai, air hujan bergerak perlahan-lahan sehingga mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan dan mengakibatkan terjadinya pelapukan kimiawi secara intensif. Akumulasi andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi.
Geometri relief dan lereng akan mempengaruhi proses pengaliran dan sirkulasi air serta reagen-reagen lain. Secara teoritis, relief yang baik untuk pengendapan bijih nikel adalah punggung-punggung bukit yang landai dengan kemiringan antara 10 – 30°. Pada daerah yang curam, air hujan yang jatuh ke permukaan lebih banyak yang mengalir (run-off) dari pada yang meresap kedalam tanah, sehingga yang terjadi adalah pelapukan yang kurang intensif. Pada daerah ini sedikit terjadi pelapukan kimia sehingga menghasilkan endapan nikel yang tipis. Sedangkan pada daerah yang landai, air hujan bergerak perlahan-lahan sehingga mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan dan mengakibatkan terjadinya pelapukan kimiawi secara intensif. Akumulasi andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi.
6.
Waktu
Waktu
yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup intensif karena
akumulasi unsur nikel cukup tinggi. Waktu merupakan faktor yang sangat
penting dalam proses pelapukan, transportasi, dan konsentrasi endapan pada
suatu tempat. Untuk terbentuknya endapan nikel laterit membutuhkan waktu yang
lama, mungkin ribuan atau jutaan tahun. Bila waktu pelapukan terlalu muda maka
terbentuk endapan yang tipis. Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan
pelapukan yang cukup intensif karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi. Banyak
dari faktor tersebut yang saling berhubungan dan karakteristik profil di satu
tempat dapat digambarkan sebagai efek gabungan dari semua faktor terpisah yang
terjadi melewati waktu, ketimbang didominasi oleh satu faktor saja.
Ketebalan
profil laterit ditentukan oleh keseimbangan kadar pelapukan kimia di dasar
profil dan pemindahan fisik ujung profil karena erosi. Tingkat pelapukan kimia
bervariasi antara 10 – 50 m per juta tahun, biasanya sesuai dengan jumlah air
yang melalui profil, dan 2 – 3 kali lebih cepat dalam batuan ultrabasa daripada
batuan asam. Disamping jenis batuan asal, intensitas pelapukan, dan struktur
batuan yang sangat mempengaruhi potensi endapan nikel lateritik, maka informasi
perilaku mobilitas unsur selama pelapukan akan sangat membantu dalam menentukan
zonasi bijih di lapangan (Totok Darijanto, 1986).
II.4 Klasifikasi
Nikel Laterit
Klasifikasi
nikel laterit berdasarkan perubahan kandungan mineral, dapat dibedakan menjadi
3 tipe (Brand et al, 1998) :
1.
Endapan silikat hydrous
(Hydrous silicate deposit)
Endapan
silikat hydrous ini adalah endapan nikel laterit yang mempunyai kadar Ni paling
tinggi yang berkisar 1.8 - 2.5%. saprolit baginn bawah merupakan horison bijih
lore) scdangkan mineral bijih adalah silikat Mg-Ni hydrous. Tipe ini dibeotuk
oleh alternsi mineral primer baruan seperti serpetin dan garnerit.
2. Endapan
silikat Lempung (Clay silicate deposits)
Dalam
endapan ini, terjadinya pelapukan oleh air tanah Si akan terurai sebagian,
sebagian lagi bergabung dcngan Fe. Ni dan AI akan membentuk mineral lempung
(clay) seperti nontronite dan saponite, biasanya terdapai di bagian mas
saprolit dan protolith. Serpentin yang kaya akan Ni juga dapat digantikan oleh
smektit atau kuarsa jika di pengaruhi oleh air tanah yang cukup lama. Kandungan
Ni rata rata 1.0-1.5%.
3. Endapan
oksida {Oxside deposits)
Endapan
laterit oksida. atau dikenal juga sebagai endapan limonit. Ni banyak mengandung
oksida Fe. terutama geothite. Terdapat juga oksida Mn yang diperkaya dalam Co.
dimana kandugan Ni rata-rata 1.0-1.6%,
Klasifikasi
nikel laterit berdasarkan perubahan kandungan mineral (Brand et al, 1998).
II.5 Profil
Endapan Nikel Laterit
Profil
endapan nikel laterit yang terbentuk dari hasil pelapukan batuan ultrabasa
secara umum terdiri dari 4 (empat) lapisan, yaitu lapisan tanah penutup atau
top soil, lapisan limonit, lapisan saprolit, dan bedrock.
1.
Lapisan Tanah
Penutup
Lapisan
tanah penutup biasa disebut iron capping. Material lapisan berukuran
lempung, berwarna coklat kemerahan, dan biasanya terdapat juga sisa-sisa
tumbuhan. Pengkayaan Fe terjadi pada zona ini karena terdiri dari konkresi
Fe-Oksida (mineral Hematite dan Goethite), dan Chromiferous dengan kandungan
nikel relatif rendah. Tebal lapisan bervariasi antara 0 – 2 m. Tekstur batuan
asal sudah tidak dapat dikenali lagi.
Iron Capping
Merupakan bagian yang paling atas dari suatu penampang laterit. Komposisinya
adalah akar tumbuhan, humus, oksida besi dan sisa-sisa organik lainnya. Warna
khas adalah coklat tua kehitaman dan bersifat gembur. Kadar nikelnya sangat
rendah sehingga tidak diambil dalam penambangan. Ketebalan lapisan tanah
penutup rata-rata 0,3 s/d 6 m. berwarna merah tua, merupakan kumpulan massa
goethite dan limonite. Iron capping mempunyai kadar besi yang tinggi tapi kadar
nikel yang rendah. Terkadang terdapat mineral-mineral hematite, chromiferous.
2.
Lapisan
Limonit
Merupakan
lapisan berwarna coklat muda, ukuran butir lempung sampai pasir, tekstur batuan
asal mulai dapat diamati walaupun masih sangat sulit, dengan tebal lapisan
berkisar antara 1 – 10 m. Lapisan ini tipis pada daerah yang terjal, dan sempat
hilang karena erosi. Pada zone limonit hampir seluruh unsur yang mudah larut
hilang terlindi, kadar MgO hanya tinggal kurang dari 2% berat dan kadar SiO2
berkisar 2 – 5% berat. Sebaliknya kadar Fe2O3 menjadi
sekitar 60 – 80% berat dan kadar Al2O3 maksimum 7% berat.
Zone ini didominasi oleh mineral Goethit, disamping juga terdapat Magnetit,
Hematit, Kromit, serta Kuarsa sekunder. Pada Goethit terikat Nikel, Chrom,
Cobalt, Vanadium, dan Aluminium.
Merupakan
hasil pelapukan lanjut dari batuan beku ultrabasa. Komposisinya meliputi oksida
besi yang dominan, goethit, dan magnetit. Ketebalan lapisan ini rata-rata 8-15
m. Dalam limonit dapat dijumpai adanya akar tumbuhan, meskipun dalam persentase
yang sangat kecil. Kemunculan bongkah-bongkah batuan beku ultrabasa pada zona
ini tidak dominan atau hampir tidak ada, umumnya mineral-mineral di batuan beku
basa-ultrabasa telah terubah menjadi serpentin akibat hasil dari pelapukan yang
belum tuntas. fine grained, merah coklat atau kuning, lapisan kaya besi dari
limonit soil menyelimuti seluruh area. Lapisan ini tipis pada daerah yang
terjal, dan sempat hilang karena erosi. Sebagian dari nikel pada zona ini hadir
di dalam mineral manganese oxide, lithiophorite. Terkadang terdapat mineral
talc, tremolite, chromiferous, quartz, gibsite, maghemite.
3.
Silika
Boxwork
Putih –
orange chert, quartz, mengisi sepanjang fractured dan sebagian menggantikan
zona terluar dari unserpentine fragmen peridotite, sebagian mengawetkan
struktur dan tekstur dari batuan asal. Terkadang terdapat mineral opal,
magnesite. Akumulasi dari garnierite-pimelite di dalam boxwork mungkin berasal
dari nikel ore yang kaya silika. Zona boxwork jarang terdapat pada bedrock yang
serpentinized
4.
Lapisan
Saprolit
Merupakan
lapisan dari batuan dasar yang sudah lapuk, berupa bongkah-bongkah lunak
berwarna coklat kekuningan sampai kehijauan. Struktur dan tekstur batuan asal
masih terlihat. Perubahan geokimia zone saprolit yang terletak di atas batuan
asal ini tidak banyak, H2O dan Nikel bertambah, dengan kadar Ni
keseluruhan lapisan antara 2 – 4%, sedangkan Magnesium dan Silikon hanya
sedikit yang hilang terlindi. Zona ini terdiri dari vein-vein Garnierite,
Mangan, Serpentin, Kuarsa sekunder bertekstur boxwork, Ni-Kalsedon, dan
di beberapa tempat sudah terbentuk limonit yang mengandung Fe-hidroksida.
Zona ini
merupakan zona pengayaan unsur Ni. Komposisinya berupa oksida besi, serpentin
sekitar <0,4% kuarsa magnetit dan tekstur batuan asal yang masih terlihat.
Ketebalan lapisan ini berkisar 5-18 m. Kemunculan bongkah-bongkah sangat sering
dan pada rekahan-rekahan batuan asal dijumpai magnesit, serpentin, krisopras
dan garnierit. Bongkah batuan asal yang muncul pada umumnya memiliki kadar SiO2
dan MgO yang tinggi serta Ni dan Fe yang rendah. campuran dari sisa-sisa
batuan, butiran halus limonite, saprolitic rims, vein dari endapan garnierite,
nickeliferous quartz, mangan dan pada beberapa kasus terdapat silika boxwork,
bentukan dari suatu zona transisi dari limonite ke bedrock. Terkadang terdapat
mineral quartz yang mengisi rekahan, mineral-mineral primer yang terlapukkan,
chlorite. Garnierite di lapangan biasanya diidentifikasi sebagai kolloidal talc
dengan lebih atau kurang nickeliferous serpentin. Struktur dan tekstur batuan
asal masih terlihat
5.
Bedrock (Batuan Dasar)
Merupakan
bagian terbawah dari profil nikel laterit, berwarna hitam kehijauan, terdiri
dari bongkah – bongkah batuan dasar dengan ukuran > 75 cm, dan secara umum
sudah tidak mengandung mineral ekonomis. Kadar mineral mendekati atau sama
dengan batuan asal, yaitu dengan kadar Fe ± 5% serta Ni dan Co antara 0.01 –
0.30%.
Bagian
terbawah dari profil laterit. Tersusun atas bongkah yang lebih besar dari 75 cm
dan blok peridotit (batuan dasar) dan secara umum sudah tidak mengandung
mineral ekonomis (kadar logam sudah mendekati atau sama dengan batuan dasar).
Batuan dasar merupakan batuan asal dari nikel laterit yang umumnya merupakan
batuan beku ultrabasa yaitu harzburgit dan dunit yang pada rekahannya telah
terisi oleh oksida besi 5-10%, garnierit minor dan silika > 35%.
Permeabilitas batuan dasar meningkat sebanding dengan intensitas
serpentinisasi.Zona ini terfrakturisasi kuat, kadang membuka, terisi oleh
mineral garnierite dan silika. Frakturisasi ini diperkirakan menjadi penyebab
adanya root zone yaitu zona high grade Ni, akan tetapi posisinya tersembunyi.
Skema profil laterit
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat di sajikan dari makalah ini
adalah sebagai berikut :
1.
Endapan nikel laterit merupakan
bijih yang dihasilkan dari proses pelapukan batuan ultrabasa yang ada di atas
permukaan bumi. Istilah Laterit sendiri diambil dari bahasa Latin “later”
yang berarti batubata merah, yang dikemukakan oleh M. F. Buchanan (1807), yang
digunakan sebagai bahan bangunan di Mysore, Canara dan Malabr
yang merupakan wilayah India bagian selatan.
2.
Faktor – faktor yang mempengaruhi
proses pembentukan endapan nikel laterit yaitu batuan asal, iklim, waktu, topografi
dan strukturnya.
3.
Pembentukan nikel laterit secara
kimia terkait dengan proses serpentinisasi yang terjadi pada batuan peridotite
akibat pengaruh larutan hidrotermal yang akan merubah batuan peridotite menjadi
batuan serpentinite atau batuan serpentinite peridotite. Sedangkan proses kimia
dan fisika dari udara, air, serta pergantian panas dingin yang bekerja kontinu
(berkelanjutan), menyebabkan disintegrasi dan dekomposisi pada batuan induk.
4.
Profil nikel laterit yaitu lapisan
penutup, limonit, saprolit, dan bed rock.
5.
Endapan nikel laterit terbagi atas 3
tipe yaitu endapan oksida, endapan silikat, dan endapan hidrosilikat.
DAFTAR PUSTAKA
http://rudhysuryadhy.blogspot.com/2012/03/proses-pengolahan-nikel.html (Diakses
Tanggal 19 Oktober 2014 Pukul 19.12 WITA)
Primanda,
Alam. 2008. Sebaran Potensi Deposit Nikel
Laterit Di Sorowako, Sulawesi Selatan. Universitas Indonesia. Jakarta
KAK kalau hal yang menyebabkan pengkayaan Fe di limonite itu kenapa ya kak ?
BalasHapusVitamin C: How to Use sunscreen with zinc oxide and titanium dioxide
BalasHapusVitamin C: How to titanium damascus knives Use titanium rings sunscreen with zinc oxide and titanium dioxide, the latest article titanium block in the health titanium necklace & men\'s titanium wedding bands welfare
The Most Successful Sites for Crypto, Casino & Poker - Goyang
BalasHapusGoyang Casino & Poker is one of the most ventureberg.com/ famous and well goyangfc.com known crypto gambling sites, communitykhabar founded in 2012. They are popular because 도레미시디 출장샵 of their great 토토사이트