MAKALAH
GEOMAGNET
Disusun
Oleh :
KADIR
GUNAWAN
09320110083
JURUSAN
TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS
TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS
MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Metode Geofisika merupakan ilmu yang mempelajari
tentang bumi dengan menggunakan pengukuran fisis pada atau di atas permukaan.
Dari sisi lain, geofisika mempelajari semua isi bumi baik yang terlihat maupun
tidak terlihat langsung oleh pengukuran sifat fisis dengan penyesuaian pada
umumnya pada permukaan (Dobrin dan Savit, 1988).
Metode geofisika sebagai pendeteksi perbedaan tentang
sifat fisis di dalam bumi. Kemagnetan, kepadatan, kekenyalan, dan tahanan jenis
adalah sifat fisis yang paling umum digunakan untuk mengukur penelitian yang
memungkinkan perbedaan di dalam bumi untuk ditafsirkan kaitannya dengan
struktur mengenai lapisan tanah, berat jenis batuan dan rembesan isi air, dan
mutu air (Todd, 1959).
Secara umum, metode geofisika dibagi menjadi dua
kategori, yaitu metode pasif dan aktif. Metode pasif dilakukan dengan mengukur
medan alami yang dipancarkan oleh bumi. Metode aktif dilakukan dengan membuat
medan gangguan kemudian mengukur respon yang dilakukan oleh bumi. Medan alami
yang dimaksud disini misalnya radiasi gelombang gempa bumi, medan gravitasi
bumi, medan magnet bumi, medan listrik dan elektromagnetik bumi serta radiasi
radiokativitas bumi. Medan buatan dapat berupa ledakan dinamit, pemberian arus
listrik ke dalam tanah, pengiriman sinyal radar dan lain sebagainya. Secara
praktis, metode yang umum digunakan di dalam geofisika tampal seperti tabel
dibawah ini :
Tabel 1. Beberapa Macam Metode Geofisika
|
Metode
|
Parameter Yang Diukur
|
Sifat Fisis Yang Diukur
|
|
Seismik
|
Densitas
dan modulus elastisitas yang menentukan kecepatan rambat gelombang seismik
|
|
|
Gravitasi
|
Variasi
harga percepatan gravitasi bumi pada posisi yang berbeda
|
Densitas
|
|
Magnetik
|
Variasi
harga intensitas medan magnetik pada posisi yang berbeda
|
Suseptibilitas
atau remanen magnetik
|
|
Resistivitas
|
Harga
resistansi dari bumi
|
Konduktivitas
listrik
|
|
Elektromagnetik
|
Respon
terhadap radiasi elektromagnetik
|
Konduktivitas
atau Induktansi listrik
|
|
Potensial Diri
|
Potensial
listrik
|
Konduktivitas
listrik
|
Dari berbagai macam metode seperti yang disebut di
atas, metode Geomagnetik merupakan salah satu metode yang masih banyak
digunakan hingga saat ini. Oleh karena itu perlu adanya pembahasan khusus
mengenai metode geomagnetik ini.
2. Rumusan Masalah
a. Gambaran umum metode geomagnetik.
b. Metode pengukuran geomagnetik.
c. Pengolahan data geomagnetik.
d. Interpretasi data geomagnetik.
3. Tujuan
Makaah ini dibuat dengan tujuan untuk memberikan
pengetahuan tentang metode geomagnetik.
BAB
II
PEMBAHASAN
a. Gambaran
Umum Metode Geomagnetik
Dalam metode geomagnetik ini, bumi diyakini
sebagai batang magnet raksasa dimana medan magnet utama bumi dihasilkan. Kerak
bumi menghasilkan medan magnet jauh lebih kecil daripada medan utama magnet
yang dihasilkan bumi secara keseluruhan. Teramatinya medan magnet pada bagian
bumi tertentu, biasanya disebut anomali magnetik yang dipengaruhi
suseptibilitas batuan tersebut dan remanen magnetiknya. Berdasarkan pada
anomali magnetik batuan ini, pendugaan sebaran batuan yang dipetakan baik
secara lateral maupun vertikal.
Eksplorasi menggunakan metode magnetik, pada
dasarnya terdiri atas tiga tahap : akuisisi data lapangan, processing, interpretasi. Setiap tahap terdiri dari beberapa
perlakuan atau kegiatan. Pada tahap akuisisi, dilakukan penentuan titik
pengamatan dan pengukuran dengan satu atau dua alat. Untuk koreksi data
pengukuran dilakukan pada tahap processing. Koreksi pada metode magnetik
terdiri atas koreksi harian (diurnal),
koreksi topografi (terrain) dan
koreksi lainnya. Sedangkan untuk interpretasi dari hasil pengolahan data dengan
menggunakan software diperoleh peta anomali magnetik.
Metode ini didasarkan pada perbedaan tingkat
magnetisasi suatu batuan yang diinduksi oleh medan magnet bumi. Hal ini terjadi
sebagai akibat adanya perbedaan sifat kemagnetan suatu material. Kemampuan
untuk termagnetisasi tergantung dari suseptibilitas magnetik masing-masing
batuan. Harga suseptibilitas ini sangat penting di dalam pencarian benda
anomali karena sifat yang khas untuk setiap jenis mineral atau mineral logam.
Harganya akan semakin besar bila jumlah kandungan mineral magnetik pada batuan
semakin banyak.
Pengukuran magnetik dilakukan pada lintasan ukur
yang tersedia dengan interval antar titik ukur 10 m dan jarak lintasan 40 m. Batuan
dengan kandungan mineral-mineral tertentu dapat dikenali dengan baik dalam
eksplorasi geomagnet yang dimunculkan sebagai anomali yang diperoleh merupakan
hasil distorsi pada medan magnetik yang diakibatkan oleh material magnetik
kerak bumi atau mungkin juga bagian atas mantel.
Metode
magnetik memiliki kesamaan latar belakang fisika denga metode gravitasi, kedua
metode sama-sama berdasarkan kepada teori potensial, sehingga keduanya sering
disebut sebagai metode potensial. Namun demikian, ditinjau ari segi besaran
fisika yang terlibat, keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar. Dalam
magnetik harus mempertimbangkan variasi arah dan besaran vektor magnetisasi,
sedangkan dalam gravitasi hanya ditinjau variasi besar vektor percepatan gravitasi.
Data pengamatan magnetik lebih menunjukkan sifat residual kompleks. Dengan
demikian, metode magnetik memiliki variasi terhadap waktu lebih besar.
Pengukuran intensitas medan magnetik bisa dilakukan melalui darat, laut dan
udara. Metode magnetik sering digunakan dalam eksplorasi pendahuluan minyak
bumi, panas bumi, dan batuan mineral serta bisa diterapkan pada pencarian
prospek benda-benda arkeologi.
Medan Magnet Bumi
Medan magnet
bumi terkarakterisasi oleh parameter fisis atau disebut juga elemen medan
magnet bumi (gambar I), yang dapat diukur yaitu meliputi arah dan intensitas
kemagnetannya. Parameter fisis tersebut meliputi :
Deklinasi (D), yaitu
sudut antara utara magnetik dengan komponen horizontal yang dihitung dari utara
menuju timur
Inklinasi(I), yaitu
sudut antara medan magnetik total dengan bidang horizontal yang dihitung dari
bidang horizontal menuju bidang vertikal ke bawah.
Intensitas Horizontal (H), yaitu besar dari medan magnetik total pada bidang horizontal.
Medan magnetik total (F), yaitu besar dari vektor medan magnetik total.
Gambar I. Tiga Elemen medan magnet bumi
Medan magnet utama bumi berubah terhadap waktu. Untuk
menyeragamkan nilai-nilai medan utama magnet bumi, dibuat standar nilai yang
disebut International Geomagnetics Reference
Field (IGRF) yang diperbaharui setiap 5 tahun sekali. Nilai-nilai IGRF
tersebut diperoleh dari hasil pengukuran rata-rata pada daerah luasan sekitar 1
juta km2 yang dilakukan dalam waktu satu tahun.
Medan magnet bumi terdiri dari 3 bagian :
- Medan
magnet utama (main field)
Medan magnet utama dapat didefinisikan
sebagai medan rata-rata hasil pengukuran dalam jangka waktu yang cukup lama
mencakup daerah dengan luas lebih dari 106 km2..
- Medan
magnet luar (external field)
Pengaruh medan magnet luar berasal dari
pengaruh luar bumi yang merupakan hasil ionisasi di atmosfer yang ditimbulkan
oleh sinar ultraviolet dari matahari. Karena sumber medan luar ini berhubungan
dengan arus listrik yang mengalir dalam lapisan terionisasi di atmosfer, maka
perubahan medan ini terhadap waktu jauh lebih cepat.
- Medan
magnet anomali
Medan magnet anomali sering juga disebut
medan magnet lokal (crustal field).
Medan magnet ini dihasilkan oleh batuan
yang mengandung mineral bermagnet seperti magnetite (
), titanomagnetite (
) dan lain-lain yang berada di kerak bumi.
Dalam survei dengan metode magnetik yang
menjadi target dari pengukuran adalah variasi medan magnetik yang terukur di
permukaan (anomali magnetik). Secara garis besar anomali medan magnetik
disebabkan oleh medan magnetik remanen dan medan magnetik induksi. Medan magnet
remanen mempunyai peranan yang besar terhadap magnetisasi batuan yaitu pada
besar dan arah medan magnetiknya serta berkaitan dengan peristiwa kemagnetan
sebelumnya sehingga sangat rumit untuk diamati. Anomali yang diperoleh dari
survei merupakan hasil gabungan medan magnetik remanen dan induksi, bila arah
medan magnet remanen sama dengan arah medan magnet induksi maka anomalinya
bertambah besar. Demikian pula sebaliknya. Dalam survei magnetik, efek medan
remanen akan diabaikan apabila anomali medan magnetik kurang dari 25 % medan
magnet utama bumi (Telford, 1976), sehingga dalam pengukuran medan magnet
berlaku :
dengan :
: medan magnet
total bumi
b. Metode Pengukuran Data Geomagnetik
Dalam
melakukan pengukuran geomagnetik, peralatan paling utama yang digunakan adalah
magnetometer. Peralatan ini digunakan untuk mengukur kuat medan magnetik di
lokasi survei. Salah satu jenisnya adalah Proton
Precission Magnetometer (PPM) yang digunakan untuk mengukur nilai kuat
medan magnetik total. Peralatan lain yang bersifat pendukung di dalam survei
magnetik adalah Global Positioning System
(GPS). Peralatan ini digunaka untuk mengukur posisi titik pengukuran yang
meliputi bujur, lintang, ketinggian, dan waktu. GPS ini dalam penentuan posisi
suatu titik lokasi menggunakan bantuan satelit. Penggunaan sinyal satelit
karena sinyal satelit menjangkau daerah yang sangat luas dan tidak terganggu
oleh gunung, bukit, lembah dan jurang.
Beberapa peralatan penunjang lain yang sering
digunakan di dalam survei magnetik, antara lain (Sehan, 2001) :
a.
Kompas geologi, untuk mengetahui arah
utara dan selatan dari medan magnet bumi.
b.
Peta topografi, untuk menentukan rute
perjalanan dan letak titik pengukuran pada saat survei magnetik di lokasi
c.
Sarana transportasi
d.
Buku kerja, untuk mencatat data-data
selama pengambilan data
e.
PC atau laptop dengan software seperti
Surfer, Matlab, Mag2DC, dan lain-lain.
Pengukuran data medan magnetik di lapangan
dilakukan menggunakan peralatan PPM, yang merupakan portable magnetometer. Data
yang dicatat selama proses pengukuran adalah hari, tanggal, waktu, kuat medan
magnetik, kondisi cuaca dan lingkungan.
Tabel 2. Contoh form untuk mencatat data hasil pengukuran
|
No
|
Stasiun
Pengukuran
|
Waktu
|
Posisi
Geografis
|
Kuat
Medan
|
Keadaan
Lokasi
|
|||
|
Tgl.
|
Jam
|
Bujur
|
Lintang
|
Tinggi
|
||||
|
1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
…
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Dalam melakukan
akuisisi data magnetik yang pertama dilakukan adalah menentukan base station
dan membuat station - station pengukuran (usahakan membentuk grid - grid).
Ukuran gridnya disesuaikan dengan luasnya lokasi pengukuran, kemudian dilakukan
pengukuran medan magnet di station - station pengukuran di setiap lintasan,
pada saat yang bersamaan pula dilakukan pengukuran variasi harian di base
station.
Pengaksesan Data IGRF
IGRF singkatan dati The International Geomagnetic
Reference Field. Merupakan medan acuan geomagnetik intenasional. Pada
dasarnya nilai IGRF merupakan nilai kuat medan magnetik utama bumi (H0). Nilai IGRF termasuk
nilai yang ikut terukur pada saat kita melakukan pengukuran medan magnetik di
permukaan bumi, yang merupakan komponen paling besar dalam survei geomagnetik,
sehingga perlu dilakukan koreksi untuk menghilangkannya. Koreksi nilai IGRF
terhadap data medan magnetik hasil pengukuran dilakukan karena nilai yang
menjadi terget survei magnetik adalan anomali medan magnetik (ΔHr0).
Nilai IGRF yang diperoleh dikoreksikan terhadap
data kuat medan magnetik total dari hasil pengukuran di setiap stasiun atau
titik lokasi pengukuran. Meskipun nilai IGRF tidak menjadi target survei, namun
nilai ini bersama-sama dengan nilai sudut inklinasi dan sudut deklinasi sangat
diperlukan pada saat memasukkan pemodelan dan interpretasi.
c. Pengolahan Data Geomagnetik
Untuk memperoleh nilai anomali medan magnetik yang
diinginkan, maka dilakukan koreksi terhadap data medan magnetik total hasil
pengukuran pada setiap titik lokasi atau stasiun pengukuran, yang mencakup
koreksi harian, IGRF dan topografi.
1.
Koreksi Harian
Koreksi harian (diurnal correction) merupakan
penyimpangan nilai medan magnetik bumi akibat adanya perbedaan waktu dan efek
radiasi matahari dalam satu hari.
Waktu yang dimaksudkan harus
mengacu atau sesuai dengan waktu pengukuran data medan magnetik di setiap titik
lokasi (stasiun pengukuran) yang akan dikoreksi. Apabila nilai variasi harian
negatif, maka koreksi harian dilakukan dengan cara menambahkan nilai variasi
harian yang terekan pada waktu tertentu terhadap data medan magnetik yang akan
dikoreksi. Sebaliknya apabila variasi harian bernilai positif, maka koreksinya
dilakukan dengan cara mengurangkan nilai variasi harian yang terekan pada waktu
tertentu terhadap data medan magnetik yang akan dikoreksi, datap dituliskan
dalam persamaan
ΔH = Htotal ± ΔHharian
2.
Koreksi IGRF
Data hasil pengukuran medan
magnetik pada dasarnya adalah konstribusi dari tiga komponen dasar, yaitu medan
magnetik utama bumi, medan magnetik luar dan medan anomali. Nilai medan magnetik
utama tidak lain adalah niali IGRF. Jika nilai medan magnetik utama dihilangkan
dengan koreksi harian, maka kontribusi medan magnetik utama dihilangkan dengan
koreksi IGRF. Koreksi IGRFdapat dilakukan dengan cara mengurangkan nilai IGRF
terhadap nilai medan magnetik total yang telah terkoreksi harian pada setiap
titik pengukuran pada posisi geografis yang sesuai. Persamaan koreksinya
(setelah dikoreksi harian) dapat dituliskan sebagai berikut :
ΔH = Htotal ± ΔHharian
± H0
Dimana H0 = IGRF
3.
Koreksi Topografi
Koreksi topografi dilakukan
jika pengaruh topografi dalam survei megnetik sangat kuat. Koreksi topografi
dalam survei geomagnetik tidak mempunyai aturan yang jelas. Salah satu metode
untuk menentukan nilai koreksinya adalah dengan membangun suatu model topografi
menggunakan pemodelan beberapa prisma segiempat (Suryanto, 1988). Ketika
melakukan pemodelan, nilai suseptibilitas magnetik (k) batuan topografi harus diketahui, sehingga model topografi yang
dibuat, menghasilkan nilai anomali medan magnetik (ΔHtop) sesuai dengan fakta. Selanjutnya persamaan
koreksinya (setelah dilakukan koreski harian dan IGRF) dapat dituliska sebagai
ΔH = Htotal ± ΔHharian
– H0 - ΔHtop
Setelah semua koreksi dikenakan pada data-data medan magnetik
yang terukur dilapangan, maka diperoleh data anomali medan magnetik total di
topogafi. Untuk mengetahui pola anomali yang diperoleh, yang akan digunakan
sebagai dasar dalam pendugaan model struktur geologi bawah permukaan yang
mungkin, maka data anomali harus disajikan dalam bentuk peta kontur. Peta
kontur terdiri dari garis-garis kontur yang menghubungkan titik-titik yang
memiliki nilai anomali sama, yang diukur dar suatu bidang pembanding tertentu.
Reduksi ke Bidang Datar
Untuk mempermudah proses pengolahan dan interpretasi
data magnetik, maka data anomali medan magnetik total yang masih tersebar di
topografi harus direduksi atau dibawa ke bidang datar. Proses transformasi ini
mutlak dilakukan, karena proses pengolahan data berikutnya mensyaratkan input
anomali medan magnetik yang terdistribusi pada biang datar.
Beberapa teknik untuk mentransformasi data anomali
medan magnetik ke bidang datar, antara lain : teknik sumber ekivalen (equivalent source), lapisan ekivalen (equivalent layer) dan pendekatan deret
Taylor (Taylor series approximaion),
dimana setiap teknik mempunyai kelebihan dan kekurangan (Blakely, 1995).
Pengangkatan ke Atas
Pengangkatan ke atas atau upward continuation merupakan proses transformasi data medan
potensial dari suatu bidang datar ke bidang datar lainnya yang lebih tinggi.
Pada pengolahan data geomagnetik, proses ini dapat berfungsi sebagai filter
tapis rendah, yaitu unutk menghilangkan suatu mereduksi efek magnetik lokal
yang berasal dari berbagai sumber benda magnetik yang tersebar di permukaan
topografi yang tidak terkait dengan survei. Proses pengangkatan tidak boleh
terlalu tinggi, karena ini dapat mereduksi anomali magnetik lokal yang
bersumber dari benda magnetik atau struktur geologi yang menjadi target survei
magnetik ini.
Koreksi Efek Regional
Dalam banyak kasus, data anomali medan magnetik
yang menjadi target survei selalu bersuperposisi atau bercampur dengan anomali
magnetik lain yang berasal dari sumber yang sangat dalam dan luas di bawah
permukaan bumi. Anomali magnetik ini disebut sebagai anomali magnetik regional
(Breiner, 1973). Untuk menginterpretasi anomali medan magnetik yang menjadi
target survei, maka dilakukan koreksi efek regional, yang bertujuan untuk
menghilangkan efek anomali magnetik regioanl dari data anomali medan magnetik
hasil pengukuran.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk memperoleh anomali regional adalah
pengangakatan ke atas hingga pada ketinggian-ketinggian tertentu, dimana peta
kontur anomali yang dihasilkan sudah cenderung tetap dan tidak mengalami
perubahan pola lagi ketika dilakukan pengangkatan yang lebih tinggi.
d. Interpretasi Data
Geomagnetk
Secara
umum interpretasi data geomagnetik terbagi menjadi dua, yaitu interpretasi
kualitatif dan kuantitatif. Interpretasi kualitatif didasarkan pada pola kontur
anomali medan magnetik yang bersumber dari distribusi benda-benda
termagnetisasi atau struktur geologi bawah permukaan bumi. Selanjutnya pola
anomali medan magnetik yang dihasilkan ditafsirkan berdasarkan informasi
geologi setempat dalam bentuk distribusi benda magnetik atau struktur geologi,
yang dijadikan dasar pendugaan terhadap keadaan geologi yang sebenarnya.
Interpretasi kuantitatif bertujuan untuk
menentukan bentuk atau model dan kedalaman benda anomali atau strukutr geologi
melalui pemodelan matematis. Untuk melakukan interpretasi kuantitatif, ada
beberapa cara dimana antara satu dengan lainnya mungkin berbeda, tergantung
dari bentuk anomali yang diperoleh, sasaran yang dicapai dan ketelitian hasil
pengukuran. Beberapa pemodelan yang biasa digunakan yaitu pemodelan dua
setengah dimensi dan pemodelan tiga dimensi.
C. KESIMPULAN
1. Geomagnetik
merupakan salah satu metode seurvei geofisika dengan cara mengukur variasi
intensitas medan magnetik dari posisi yang berbeda.
2. Metode
geomagnetik ini dapat digunakan untuk eksplorasi pendahuluan minyak bumi, panas
bumi, dan batuan mineral serta bisa diterapkan pada pencarian prospek
benda-benda arkeologi.
3. Eksplorasi
dengan menggunakan geomagnetik pada umumnya dilakukan dengan tiga tahap, yaitu
akuisisi data lapangan, processing,
interpretasi. Pada tahap processing dilakukan
koreksi pada metode magnetik yang terdiri atas koreksi harian (diurnal), koreksi IGRF, koreksi
topografi (terrain) dan koreksi
lainnya.
4. Interpretasi
data geomagnetik dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu interpretasi kualitatif
dan interpretasi kuantitatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar